Minggu, 31 Mei 2009
Gara-Gara Alamat e-mail
Akhirnya si A pulang dengan gontai, gara-gara hal spele seperti alamat e-mail dia gagal mendapatkan sebuah pekerjaan. Di tengah perjalanan dia merenung, dan akhirnya semangatnya bangkit. Dia merogoh dompetnya dan melihat isinya, hanya ada beberapa puluh dolar disana. Dia mengambil semua uang tersebut dan membeli 2 kotak tomat. Kemudian tomat-tomat itu dia jual. Dia tidak pulang ke rumah sebelum semua tomatnya terjual. Setelah tomatnya terjual, dia membeli buah-buahan yang lain untuk melipatgandakan uangnya, begitu setiap harinya sampai beberapa tahun kemudian si A menjadi seorang pengusaha yang sukses dan memiliki perusahaan sendiri.
Suatu hari dia melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan. Pihak perusahaan tersebut menanyakan alamat e-mailnya, seperti beberapa tahun sebelumnya, si A termenung kemudian dia berkata "Saya tidak memiliki alamat e-mail". Dia sudah menjadi sesukses ini namun tetap belum memiliki alamat e-mail. Pihak perusahaan tersebut kaget dan berkata "Anda hebat, tidak memiliki alamat e-mail pun anda bisa sesukses ini, apalagi jika anda memiliki alamat e-mail", kemudian si A menjawab "Ah, tidak juga jika saya memiliki alamat e-mail dari dulu, mungkin sampai sekarang saya hanyalah seorang cleaning service!"
Kisah di atas menegaskan bahwa kesuksesan itu dapat diraih dengan atau tanpa adanya fasilitas, tapi bukan berarti e-mail itu tidak penting. Motivasi dan obsesi adalah bahan bakar utama untuk meraih sukses. Keterbatasan fasilitas atau alat bukanlah kendala bagi orang yang memiliki motivasi tinggi. Si A telah membuktikan bahwa tanpa mempunyai alamat e-mail dia bisa menjadi orang sukses. Menurut Anis Matta "Berprestasi di tengah keterbatasan adalah kepahlawanan dalam bentuk yang lain!"
Kamis, 28 Mei 2009
Faktor - X
Kegagalan adalah sukses yang tertunda, mungkin kalimat itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Setiap kali kita mengalami kegagalan, apa pun itu bentuknya kita pasti teringat dengan kalimat penghibur tersebut. Satu kali kita gagal, kita berfikir bahwa itu adalah sukses yang tertunda, dua kali, itu masih sukses yang tertunda. Tapi bagaimana apabila kita mengalami kegagalan untuk yang kesekian puluh atau bahkan kesekian ratus kali, apakah itu masih sukses yang tertunda? Mungkin kita perlu evaluasi penyebab kegagalan tersebut.
Seorang ilmuwan harus mengalami 99 kali kegagalan untuk kemudian bisa berhasil, itu bisa memberi motivasi kepada kita bahwa segala sesuatu itu butuh proses. Ada orang bijak mengatakan “yang terpenting bukan seberapa banyak anda gagal, tetapi seberapa sering anda bangkit kembali setelah gagal“, kalimat tersebut benar, membuat kita tidak mudah menyerah dan kembali berusaha dan bekerja keras. Tetapi untuk bisa sukses tidak hanya cukup dengan bermodalkan kerja keras saja. Menurut Viktor Asih, seorang motivator, seseorang bisa sukses karena adanya faktor-X. Apakah Faktor-X itu? Keberuntungan? BUKAN! Faktor-X itu adalah X-tra kerja keras, X-tra kerja cerdas, X-tra kerja ikhlas, dan X-tra coba satu kali lagi jika gagal! Jadi kerja keras saja tidak cukup untuk membuat seseorang sukses, tetapi harus diiringi dengan kerja yang cerdas dan penuh strategi, ikhlas bahwa apa pun yang kita lakukan sepenuhnya kita berpasrah kepada Yang Menggenggam Langit dan Bumi, dan selalu mencoba satu kali lagi jika gagal, tentuanya dengan mengevalusi penyebab kegagalan.
Jadi jika anda gagal dalam melakukan sesuatu, evalusi lah penyebab kegagalan tersebut, kemudian perbaiki dan coba satu kali lagi, dengan tidak lupa diiringi dengan do’a, karena segala sesuatu belum sempurna tanpa do’a. Mudah-mudahan dengan menerapkan faktor -X ketika mengalami kegagalan, kesuksesan yang kita impikan tidak akan terlalu lama tertunda! SUKSES!
Ingin tahu lebih detail mengenai faktor-X? Baca bukunya “8 Langkah Ajaib Menuju Langit” oleh Victor Asih.