Time flies..tak terasa sudah di pertengahan tahun 2009 lagi. Juni 2008 rasanya baru kemarin tiba-tiba kita telah sampai di Bulan Juni 2009, and I'm still not getting any..belum melakukan apa-apa!!!
Saya teringat pertengahan tahun kemarin saya mulai bergabung dengan USB School, sebuah komunitas sekolah bisnis (http://www.usbschool.blogspot.com). Di awal kuliah kami disuruh membuat sebuah impian dan mewujudkannya. Saya berhasil membuat sebuah impian namun gagal mewujudkannya karena saya selalu menunda!
Menunda adalah musuh utama keberhasilan. Benar apa kata pepatah bahwa "jangan menunda untuk esok apa yang bisa anda lakukan hari ini". Kata 'menunda' bersifat adiktif, karena sekali menunda kita akan kecanduan untuk terus menunda! Sering kita menunda melakukan sesuatu untuk esok hari, dan ketika esok hari itu datang yang kita lakukan adalah menunda untuk esok harinya lagi, esok, esok dan esok harinya lagi, begitu seterusnya hingga kita terbangun di tahun berikutnya dan kita belum melakukan apa-apa!
Jangan menunda! Bayangkanlah hidup kita di dunia ini tinggal beberapa saat lagi! Detik=detik yang berharfa itu tentunya ingin kita gunakan untuk melakukan sesuatu yang berharga. Seperti syair sebuah lagu:
'seize the day or die regreting the time you've lost...!'
Tuhan memberikan kita semua waktu yang sama setiap harinya yaitu 24 jam. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki waktu 25 jam atau 23 jam dalam seharinya. Bagi mereka yang memanfaatkan waktunya dengan baik pasti mereka akan mendapatkan berkah dan kesuksesan, dan bagi mereka yang tidak pandai memanfaatkan waktunya dengan baik seperti 'menunda' maka kerugianlah yang akan mereka dapatkan! Allah SWT pun berfirman:
"Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian
Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh..."
Menunda itu pekerjaan yang paling merugikan di seluruh dunia. So, jangan menunda lagi, lakukan yang bisa kita lakukan, SEKARANG!!!
Jumat, 05 Juni 2009
Selasa, 02 Juni 2009
Kuda dan Sumur
Alkisah ada seorang petani yang memiliki seekor kuda. Suatu hari kudanya tersebut jatuh ke dalam sebuah sumur tua yang sudah jarang dipakai lagi. Sang petani bingung apakah dia harus menyelamatkan kudanya atau tidak. Setelah dia pikir-pikir, kudanya itu sudah tua dan sudah tidak produktif lagi, sumurnya pun sudah jarang dipergunakannya lagi. Akhirnya dia memutuskan baik kuda maupun sumurnya tidak layak untuk diselamatkan. Maka dia meminta bantuan tetangganya untuk mengubur sumur tersebut beserta kuda di dalamnya. Lalu bersama-sama tetangganya ia menyekop tanah kotor ke dalam sumur itu.
Pertama-tama si kuda terganggu saat tanah kotor itu menimpa tubuhnya. Si kuda panik dan frustasi, tetapi lama-lama dia menyadari bahwa tanah yang menimpa tubuhnya itu bisa dia goyangkan sehingga jatuh ke kakinya dan dia bisa berdiri di atasnya. Setiap sekop tanah yang menimpa tubuhnya, dia goyangkan dan dia berdiri di atasnya. Secara bertahap, lama-lama tanah tersebut mengisi sampai mendekati lubang atas sumur sehingga si kuda bisa melompat keluar dari sumur tersebut. Tanah yang tadinya ditujukan untuk menguburnya berubah menjadi penyelamat baginya..(dari "Dare to fail : No failure only success delayed")
Menurut Michael Lum Y. kegagalan itu seperti tanah kotor, tergantung bagaimana kita mengolah kegagalan tersebut. Seperti kisah kuda di atas, tanah kotor yang tadinya bisa menguburnya, dia goyangkan sehingga dia bisa berdiri di atasnya. Bila kita mengolah kegagalan yang menimpa kita, kita bisa bangkit di atasnya. So, ayo bangkitlah dari kegagalan!!!!
Pertama-tama si kuda terganggu saat tanah kotor itu menimpa tubuhnya. Si kuda panik dan frustasi, tetapi lama-lama dia menyadari bahwa tanah yang menimpa tubuhnya itu bisa dia goyangkan sehingga jatuh ke kakinya dan dia bisa berdiri di atasnya. Setiap sekop tanah yang menimpa tubuhnya, dia goyangkan dan dia berdiri di atasnya. Secara bertahap, lama-lama tanah tersebut mengisi sampai mendekati lubang atas sumur sehingga si kuda bisa melompat keluar dari sumur tersebut. Tanah yang tadinya ditujukan untuk menguburnya berubah menjadi penyelamat baginya..(dari "Dare to fail : No failure only success delayed")
Menurut Michael Lum Y. kegagalan itu seperti tanah kotor, tergantung bagaimana kita mengolah kegagalan tersebut. Seperti kisah kuda di atas, tanah kotor yang tadinya bisa menguburnya, dia goyangkan sehingga dia bisa berdiri di atasnya. Bila kita mengolah kegagalan yang menimpa kita, kita bisa bangkit di atasnya. So, ayo bangkitlah dari kegagalan!!!!
Senin, 01 Juni 2009
Benarkah Allah Maha Adil?
Benarkah Allah Maha Adil? Kadang pertanyaan tersebut singgah di benak kita, tatkala kita sedang mengalami keterpurukan. Misalnya saja dalam hal keadaan ekonomi. Banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi sering mempertanyakan tentang keadilan Tuhan. Katanya Allah Maha Adil, mengapa Dia tidak memberikan kadar rezeki yang sama kepada setiap umatnya? Banyak orang yang sudah kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin terpuruk. Adil bukan berarti sama rata, tetapi adil itu proporsional atau sesuai. Allah SWT akan memberikan rezeki sesuai dengan kadar usaha umatnya. Bukankah apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita tuai, dan apa yang kita berikan maka itu pula yang akan kita dapatkan.
Sebenarnya Allah memberikan kadar rezeki yang sama untuk tiap umatnya namun Dia memberikannya sesuai dengan kadar usaha dan pengorbanan setiap umatnya. Banyak masyarakat pedesaan yang selalu hidup di bawah garis kemiskinan meragukan bahwa Allah Maha adil. Benarlah bahwa "kefakiran itu dekat dengan kekufuran". Ada orang yang tidak mau berdo'a lagi karena merasa do'a nya tak pernah dijawab. Dia berdo'a siang dan malam meminta rezeki, tetapi rezeki tersebut tak kunjung datang. Rezeki itu tak akan datang hanya dengan berdo'a, tetapi kita harus berusaha terlebih dahulu baru disempurnakan dengan do'a!
Ketika kita merasa rezeki seolah menjauh, tanyalah diri kita sudah seberapa besar usaha kita untuk mendekatkan rezeki tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip no pain, no gain! So, untuk mendapatkan sesuatu yang kita perlukan adalah berusaha, berdo'a, bersabar dan bersyukur!
Sebenarnya Allah memberikan kadar rezeki yang sama untuk tiap umatnya namun Dia memberikannya sesuai dengan kadar usaha dan pengorbanan setiap umatnya. Banyak masyarakat pedesaan yang selalu hidup di bawah garis kemiskinan meragukan bahwa Allah Maha adil. Benarlah bahwa "kefakiran itu dekat dengan kekufuran". Ada orang yang tidak mau berdo'a lagi karena merasa do'a nya tak pernah dijawab. Dia berdo'a siang dan malam meminta rezeki, tetapi rezeki tersebut tak kunjung datang. Rezeki itu tak akan datang hanya dengan berdo'a, tetapi kita harus berusaha terlebih dahulu baru disempurnakan dengan do'a!
Ketika kita merasa rezeki seolah menjauh, tanyalah diri kita sudah seberapa besar usaha kita untuk mendekatkan rezeki tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip no pain, no gain! So, untuk mendapatkan sesuatu yang kita perlukan adalah berusaha, berdo'a, bersabar dan bersyukur!
Langganan:
Postingan (Atom)